“Kabarin dong.” Inilah salah satu gaya bahasa ala masyarakat Jakarta untuk saling bertukar kabar. Belakangan hari, istilah ini menjadi lingua-franca (bahasa gaul) di berbagai kalangan orang Indonesia.
Sebagian orang menganggap saling memberi kabar kepada sesama –sanak keluarga, kerabat dekat, sahabat maupun rekan bisnis– seringkali menjadi hal yang mudah. Apalagi, bagi mereka yang memiliki akses langsung dengan fasilitas ber-Ternologi Informasi (TI). Bertelepon, ber-SMS (Short Message Service alias pesan singkat melalui telepon seluler/ponsel) dan ber-email (surat elektronik) melalui jejaring komputer sejagat (Internet) memanjakan untuk saling berkabarin.
Namun, tidak sedikit pula di masyarakat yang belum berkesempatan menikmati fasilitas semacam itu. Bahkan, mereka menilai produk TI adalah barang mewah. Oleh karena itu, surat non-elektronik (baca: surat berperangko yang diantar Pak Pos) menjadi cara terbaik untuk saling bertukar kabar. Dan, ada pula sebagian kalangan yang memerlukan waktu lama untuk sekadar bertukar kabar dengan orang lain yang secara geografis berada di nun jauh di sana.
Lantas, mengapa bertukar kabar menjadi salah satu hal penting di masyarakat? Tiap orang tentunya memiliki pendapat sekaligus alasan yang berbeda untuk menjawabnya. Hal yang pasti, semua orang tak ingin sendiri. Semua orang bisa saja merasa sendirian, namun mereka bakal tidak rela kesepian.
Kalau sudah begini… ya Kabarin Dong di Sini…!
-oOo-
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.