Feeds:
Pos
Komentar

Jakarta (Kabarin) – Sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap perkembangan karya jurnalistik Tanah Air, melalui payung program “Sampoerna untuk Indonesia”, PT HM Sampoerna Tbk. kembali menggelar ajang kompetisi Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009 yang tahun ini memasuki tahun keempat dalam penyelenggaraannya.

Ajang kompetisi karya jurnalistik Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan terhadap perkembangan karya media nasional. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, AAS 2009 diharapkan dapat turut memotivasi media nasional untuk terus menghasilkankarya-karya yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Kami ingin ajang AAS ini dapat memotivasi para jurnalis untuk terus menghasilkan karya-karya jurnalistik yang menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk berbuat lebih baik lagi,” kata Niken Rachmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk. “Untuk itu, tahun ini kami melakukan
beberapa perubahan dari sisi kategori dan jumlah karya yang masuk karena kami ingin membuka kesempatan yang luas untuk mengapresiasi hasil karya jurnalistik anak bangsa.”

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia akan memberikan ruang kepada jurnalis untuk lebih mengeksplorasi hasil karya mereka dengan memfokuskan pada tulisan-tulisan feature dengan dua kategori, yaitu liputan investigatif dan liputan kemanusiaan untuk media cetak dan online. “Tulisan feature memungkinkan wartawan untuk mengeksplorasi kemampuan menulis dan mengangkat permasalahan yang luput dari pengamatan masyarakat,” demikian dikatakan Yosep Adi Prasetyo, salah satu Pendiri Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang pada tahun ini kembali menjadi anggota dewan juri AAS 2009.

Untuk kategori liputan kemanusiaan, AAS akan memberikan penghargaaan kepada tulisan-tulisan yang dapat mengemas suatu kejadian menarik dan kisah kemanusiaan menjadi laporan jurnalistik yang inspiratif. Sementara itu, kategori liputan investigatif, ditujukan bagi tulisan-tulisan yang mampu mengungkap kasus yang menyangkut kepentingan umum atau permasalahan lain yang tidak transparan, tambahnya.

Selain memungkinkan jurnalis untuk lebih bereksplorasi dengan tulisan-tulisan feature, AAS 2009 ini pun memungkinkan jurnalis televisi
untuk memiliki kesempatan menang lebih besar karena tahun ini, panitia tidak membatasi jumlah hasil karya televisi yang dikirimkan.

“Tahun ini, kita tidak akan membatasi jumlah karya televisi yang masuk, namun kami akan membatasi durasinya saja menjadi maksimal 60 menit untuk setiap karya,” demikian dikatakan Arswendo Atmowiloto, sutradara, produser, dan budayawan yang kembali menjadi anggota dewan juri AAS 2009 untuk media televisi.

Untuk karya televisi, tahun ini pun kategorinya akan ditambah menjadi 2, yaitu reportase investigatif dan dokumenter. “Jadi, kami ingin AAS
benar-benar memberikan wadah yang tepat bagi jurnalis untuk mempersembahkan karya terbaik dimana mereka dapat bereksplorasi dengan maksimal,” ujarnya.

Dengan beberapa perubahan yang dibuat, maka total kategori yang tersedia di AAS 2009 menjadi 20, yaitu:
* Kategori liputan investigatif dalam bidang (1) seni dan budaya; (2) olahraga; (3) ekonomi/bisnis; (4) sosial; (5) politik; dan (6) hukum.
* Kategori liputan kemanusiaan dalam bidang (7) seni dan budaya; (8) olahraga; (9) ekonomi/bisnis; (10) sosial, (11) politik; dan (12) hukum
* Kategori foto berita dalam bidang (13) seni dan budaya; (14) olahraga; (15) ekonomi/bisnis; (16) sosial; (17) politik; dan (18) hukum
* Karya jurnalistik televisi dalam kategori (19) reportase investigatif dan (20) dokumenter.

Sebagai salah satu ajang dalam pemberian anugerah kepada jurnalis di Indonesia, dari awal tahun penyelenggaraannya, AAS senantiasa berusaha menghadirkan kualitas terbaik mulai dari persiapan, penjurian hingga malam penganugerahan. Salah satu elemen yang penting dari keseluruhan adalah penjurian.

AAS senantiasa menghadirkan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di bidangnya masing-masing. Nama-nama yang akan menjadi dewan juri tahun ini antara lain Effendy Gazali, Harkristuti Harkrisnowo, Seno Gumira Ajidarma, Faisal Basri, Francisia Seda, dan Yosep Adi Prasetyo untuk kategori media cetak dan online, sementara untuk kategori media televisi terdapat nama-nama Arswendo Atmowiloto, George Kamarullah, Bambang Harimurty, Marselli Sumarno,
dan Fetty Fajriati. Sedangkan PT HM Sampoerna Tbk, akan diwakili oleh Niken Rachmad.

Untuk memudahkan komunikasi dan sosialisasi AAS 2009, panitia juga telah memanfaatkan fasilitas blog khusus yakni:
http://anugerahadiwarta.org/ dimana peserta juga dapat mengajukan pertanyaan atau melihat persyaratan serta ketentuan yang berlaku untuk mengikuti ajang AAS tahun ini.

Sampoerna untuk Indonesia merupakan rangkaian kegiatan dan program yang dilaksanakan oleh PT HM Sampoerna Tbk. sebagai bentuk sumbangsih dan peran
serta perusahaan dalam memajukan Bangsa dan masyarakat Indonesia, sekaligus untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat agar dapat melakukan
yang terbaik bagi dirinya sendiri dan bangsa Indonesia. Kegiatan dan program “Sampoerna untuk Indonesia” mencakup berbagai bidang, antara lain
pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, media serta pelestarian seni dan budaya, sekaligus juga penyelenggaraan ajang penghargaan karya
jurnalistik “Anugerah Adiwarta Sampoerna”.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi:

PANITIA PENYELENGGARA ANUGERAH ADIWARTA SAMPOERNA 2009
Maverick Jl. Balitung III Nomor 8 Kebayoran Baru – Jakarta 12110 � Tel.
(021) 727 898 33 Fax. (021) 727 898 34 Email: aas@maverick.co.id; aas@maverick.co.id
Blog: http://anugerahadiwarta.org/

Iklan

When Mystic Masters Meet

floral_background_b21

Jakarta (Kabarin) – Universitas Paramadina bekerjasama dengan Gramedia menyelenggarakan “Seminar dan peluncuran buku: When Mystic Masters Meet, Paradigma Baru dalam Relasi Umat Kristiani-Muslim”.

Tempat: Auditorium Nurcholish Madjid Univ. Paramadina
Waktu: 10 Maret 2009 | 09.30-12.30

Buku karangan Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., Dosen PS Falsafah & Agama Univ. Paramadina, yang berisi kajian tentang bagaimana diskursus dan pengalaman mistik dapat memainkan peranan dalam dialog umat Kristiani-Muslim sebagai bagian dari dialog agama secara umum. Berfokus pada karya dua Mahaguru mistik besar Abad Pertengahan, yakni guru Sufi yang dikenal dengan sebutan al-Shaykh al-Akbar Muhyi al-Din Ibn al-‘Arabi dan Meister Eckhart-mistikus besar dan teolog filsuf Dominikan Jerman.

Buku ini mencoba menguak kebuntuan dialog umat Kristiani-Muslim pada proposisi yang tak dapat diakurkan. Disisi lain umat Krisiani-Muslim sangat ingin melakukan dialog sebagai salah satu cara untuk mereduksi konflik.

Pembicara pada seminar ini: Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno.

Tersedia buku gratis bagi 100 hadirin pertama.

Konfirmasi: SMS ke 0815-9181188 ketik “Mystic_nama_email”

Suratno
Head of Philosophy & Religion Dept
Paramadina University
Jln. Gatot Subroto Kav 96-97 Jakarta Indonesia
Telp. 62-21-79181188, Fax. 62-21-7993375
www.paramadina.ac.id, www.suratno77.multiply..com

tni_al_icon1502

Surabaya (Kabarin) – Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) saat ini memiliki fasilitas baru untuk melatih prajuritnya piawai dalam menembak. Fasilitas berupa arena latihan menembak berbasis komputer ini bernama Virtual Arms Solution FTS D-425.

Fasilitas baru dan canggih tersebut pada Selasa (24/2) ditinjau dan diuji coba oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Lili Supramono beserta para pejabat teras Koarmatim di Komando Latihan Armada Koarmatim (Kolatarmatim), Ujung, Surabaya.

Arena Latihan Menembak Virtual Arms Solution FTS D-425 ini berada di dalam ruangan full AC berukuran 10 x 20 m2. Tiga unit LCD menyorotkan gambar sasaran tembak di screen yang mampu menampilkan berbagai objek sasaran baik diam, orang bergerak, pertempuran jarak dekat, jarak jauh maupun di atas kapal.

Dengan dilengkapi 2 unit mesin khusus berikut 2 komputer yang sudah terprogram, maka petembak dapat meminta gambar sasaran tertentu kepada operator, apakah jarak dekat, jarak jauh, bergerak, statis, di atas kendaraan, di atas kapal dll. Suasana ruangan pun dapat diatur tingkat kegelapannya, apakah terang, remang-remang bahkan gelap gulita, selain itu dengan ruangan full AC akan menjadikan para petembak yang tengah melaksanakan latihan merasa nyaman.

Dalam satu sesi latihan, arena Virtual Arms Solution FTS D-425 dapat menampung 8 petembak sekaligus. Senjata yang digunakan juga senjata khusus yang telah terhubung dengan komputer. Perkenaan sasaran, nilai (skor), gerakan si petembak saat mebidikkan senjatanya ke sasaran, serta kesalahan dalam gerakan petembak dapat terbaca secara akurat di layar monitor operator maupun screen di depan petembak.

Hal tersebut dapat mengoreksi secara baik dan akurat tingkat kesalahan seorang petembak yang akan susah diketahui apabila dilaksanakan secara manual di lapangan tembak biasa. Selain itu, berbagai posisi dan sikap petembak, baik sikap berdiri, jongkok maupun tiarap dapat dilaksankan pada arena ini.

Menurut Pangarmatim Laksda TNI Lili Supramono, fasilitas ini merupakan bantuan dari Mabes TNI. Bahkan menurutnya di Indonesia baru Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan Koarmatim yang memiliki fasilitas arena latihan menembak canggih tersebut. Karena itu Pangarmatim berterima kasih kepada Panglima TNI (Mabes TNI) atas perhatiannya kepada Koarmatim. “Kami berterima kasih atas bantuan sarana ini, dan tentunya akan kami pergunakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan profesionalitas menembak prajurit Koarmatim,” katanya.

Turut hadir dan menyaksikan ujicoba sarana latihan menembak Virtual Arms Solution FTS D-425 tersebut antara lain Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Slamet Yulistiyono, Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim Laksamana Pertama TNI Raja Morni Harahap, Para Asisten Pangarmatim, serta Kepala Dinas di lingkungan Koarmatim.

Demikian keterangan dari Kepala Dinas Penerangan Koarmatim, Letkol Laut Toni Syaiful. (*)

tni_al_icon1501 
Jakarta (Kabarin) – Sebuah kapal jenis Long Boat tanpa nama asal Filipina berhasil ditangkap oleh KRI Piton-821 di Laut Sulawesi, tepatnya di posisi 03 53 50 Lintang Utara (LU) – 118 34 00 Bujur Timur (BT), karena memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia tanpa ijin. Kapal tersebut diawaki enam orang anak buah kapal, empat diantaranya berkewarganegaraan Filipina.

Masalah tertangkapnya kapal asing tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul SE di Dispenal, Mabes TNI AL Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (23/2).

Sementara itu, KRI Mandau-621 juga menahan KM Samudera Raya-88 di perairan Halmahera pada posisi 02 30 23 LU – 129 17 37 BT karena menangkap ikan tidak sesuai dengan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) yang ada. Kapal yang dinakhodai Jordan Pisula diawaki tiga orang Warga Negara Indonesia (WNI). Untuk proses hukum selanjutnya, kapal tersebut dikawal ke Pangkalan TNI AL (Lanal) Ternate.

Menurut Laksma TNI Iskandar Sitompul, KRI Piton ketika memergoki Long Boat Filipina itu sedang melaksanakan patroli keamanan laut sehari-hari. Sedangkan KRI Mandau yang merupakan Kapal Cepat Rudal menangkap KM. Samudera Raya-88 ketika sedang melaksanakan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia III dan perairan titik terluar wilayah Kedaulatan Republik Indonesia.
 
Keempat Anak Buah Kapal (ABK) warga negara Filipina itu tercatat atas nama Nur Haiba, Muksidin, Tahiba dan Paje. Dari hasil pemeriksaan sementara diketahui Long Boat tersebut membawa sejumlah ikan campuran. Kapal dan para ABK serta barang bukti lainnya dikawal ke Pangkalan TNI AL (Lanal) Nunukan.

Demikian berita dari Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal) yang dikirimkan Sekretaris Dinas (Sekdis), Kolonel Laut (E) Ditya Soedarsono SH. (*)

Buku Baru tentang Raden Saleh

books

Jakarta (Kabarin) – Komunitas Bambu menerbitkan buku baru

Raden Saleh,

Anak Belanda, Mooi Indië dan Nasionalisme

Harsja W. Bachtiar, Peter B.R. Carey, dan Onghokham

Februari 2009, 240 hlm, 13 x 19 cm

Rp. 50.000

***

Setelah 200 tahun kelahiran kelahiran Raden Saleh, buku ini bukan saja hadir untuk menjernihkan kontroversi ihwal jiwa kebangsaannya yang dipertanyakan. lebih jauh lagi untuk memperlihatkan bagaimana sang bangsawan, maestro lukis dan ilmuwan ini telah mewariskan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan pengaruhnya dalam sejarah pemikiran kebangsaan Indonesia dan mungkin jauh diluar bayangannya sendiri. Harsya W. Bachtiar, Peter B.R. Carey, dan Onghokham adalah sejarawan yang berusaha menguak warisan itu seraya menilai tentang siapa dia dan kedudukannya dalam sejarah. “Pacar

Bisa didapatkan di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung serta Toga Mas mulai 25Februari 2009. Dapatkan diskon 15% dengan memesan langsung ke Penerbit Komunitas Bambu + ongkos kirim untuk wilayah Jabodetabek atau paket untuk luar Jabodetabek.

“Jadilah pembaca pertama buku berharga ini”

Komunitas Bambu

Jl. Pala No. 4B Beji Timur Depok
Tlp: 021-772 06 987
sms pesanan: 0813 8543 0505

email pesanan: komunitasbambupemasaran@yahoo.com

Hak Kabudayaan Indonesia

indonesia-map

Jakarta (Kabarin) – Ketika kesadaran hukum atas Hak Kekayaan Intelektualitas semakin meningkat, ketika itu pula kecemasan akan kehilangan hak-hak tersebut semakin muncul.

Banyak orang yang cemas apabila batik, tempe, lagu-lagu daerah, busana, seni tradisional bahkan segala sendi kehidupan yang diakui sebagai suatu kekayaan yang khas, dirampas eksistensinya oleh pihak-pihak lain. Perebutan pun terjadi oleh pihak-pihak yang merasa memilikinya.

Tatanan hukum diperlukan untuk mewadahi “saling klaim” yang memperebutkan eksistensi, pengakuan dan rasa aman terhadap asset kekayaan intelektual.

Nagara Institute mengundang Anda untuk duduk bersama membahas Ruang Lingkup Hak Kebudayaan dalam perspektif hukum menandai peluncuran buku karya Dr Miranda Risang Ayu yang berjudul
“Geographical Indications Protection In Indonesia based on Cultural Rights Approach”.

Talkshow menghadirkan Miranda Risang Ayu, SH,LLM,PhD dan Dien Fakhri Iqbal, S.Psi, Psych dan moderator Taufik Rahzen.

Pada Rabu, 25 Februari 2009
Pukul 19.00-21.30
Di Newseum Café
Jl Veteran I no 33
Jakarta Pusat

RSVP: Ino, 081321971962

PERLINDUNGAN INDIKASI GEOGRAFIS DI INDONESIA BERDASARKAN PENDEKATAN HAK-HAK KEBUDAYAAN

Miranda Risang Ayu, SH, LLM, PhD

ABSTRAK

Indikasi Geografis adalah salah satu jenis Hak Kekayaan Intelektual yang terdiri dari nama dagang yang dilekatkan pada suatu produk yang mengidentifikasikan asal geografis, terutama karakter khusus yang dihasilkan oleh tempat asal tersebut, yang membuat produk itu unik dan jelas perbedaannya dari produk-produk lainnya.

Riset ini akan dimulai dengan cara mengeksplorasi beberapa aspek yang berpengaruh terhadap pembentukan sistem-sistem perlindungan hukum di tingkat nasional: hukum internasional, variasi sistem-sistem perlindungan hukum di beberapa negara, dan perkembangan terkini dari Indikasi Geografis di tiap negara ASEAN.

Riset ini kemudian akan memfokuskan diri kepada perlindungan hukum terhadap Indikasi Geografis.

Riset ini akan menawarkan kontribusi dalam bentuk empat model sistem perlindungan Indikasi Geografis di tingkat nasional yang dapat diaplikasikan untuk Indonesia dan negara-negara penandatangan TRIPS lainnya. Riset ini juga akan menawarkan sistem hukum, termasuk semua aspek penting yang perlu dipertimbangkan, untuk membentuk perlindungan Indikasi Geografis yang kokoh di Indonesia. (*)

pwilogokecil

Jakarta (Kabarin) – Muhamad Nur, wartawan Batam Pos, meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta untuk kategori Pembangunan Kemanusiaan atas karyanya berjudul “16 Tahun Menyerah, Dikalahkan Ombak dan Hama Babi” yang dipublikasikan Batam Pos edisi 27 Desember 2008.

Karya tulis jurnalistik Muhamad Nur meraih nilai 401, dan menyisihkan 36 tulisan lainnya yang termasuk unggulan dengan sisi penilaian secara tematik, materi dan penguasaan Bahasa Indonesia, demikan hasil keputusan Dewan Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008, di Jakarta, Kamis.

Dewan juri terdiri atas Artini Suparmo PhD (wartawan senior, pemenang Adinegoro sebanyak dua kali, dan dosen London School Public Relations/LSPR), Atmakusumah Astraatmadja (mantan Ketua Dewan Pers dan dosen senior Lembaga Pers Dr. Soetomo/LPDS), dan Radhar Panca Dahana (budayawan, dan pengasuh kolom sastra di satu media massa nasional).

Selain itu, Tribuana Said (anggota Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia/PWI Pusat, dan dosen senior LPDS), serta DR Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang APU (pakar dari Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional/Depdiknas).

Dewan juri penghargaan tertinggi dari PWI Pusat untuk karya tulis jurnalistik tersebut juga memutuskan tidak adanya pemenang untuk Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 kategori Pembangunan Demokrasi lantaran tidak ada yang memenuhi standar sesuai ketentuan lomba dan harapan yang didiskusikan para juri.

Muhamad Nur dijadwalkan menerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta pada Malam Pers Perjuangan, yang menjadi puncak dari serangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2009 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 9 Februari mendatang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir dalam acara puncak HPN 2009 yang bertema “Kemerdekaan Pers Dari dan Untuk Rakyat.”

PWI memberi nama Adinegoro untuk penghargaan tertinggi di bisang karya jurnalistik guna mengenang kejuangan salah seorang tokoh pers nasional yang memiliki nama lengkap Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan, yang juga adik dari tokoh kemerdekaan nasional M. Yamin.

Adinegoro yang lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta 8 Januari 1967 itu, mengeyam pendidikan kewartawanan di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda) sebelum kembali ke tanah air tahun 1931 untuk menjadi Pemimpin Redaksi Panji Poestaka untuk kemudian memimpin surat kabar Pewarta Deli.

Namanya juga diabadikan untuk Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) sebagai satu institusi yang mengabdi untuk membangun/meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang jurnalistik. (*)